TAUFIQ ISMAIL

16 Mar

Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi pada tanggal 25 Juni 1937 dan dibesarkan di Pekalongan dalam keluarga guru dan wartawan. Ayahnya adalah sorang ulama Muhammadiyah terkemuka, K.H. Abdul Gaffar Ismail dan ibunya bernama Tinur Muhammad Nur. Dengan latar belakang keluarga seperti itulah Taufiq dikenal sebagai penyair yang bernafaskan keagamaan.

Taufiq adalah anak sulung dari tiga bersaudara, adiknya bernama Ida Ismail dan Rahmat Ismail. Dari perkawinannya dengan Esiyati Yatim, Taufiq dikaruniai putra tunggal yang bernama Bram Ismail, M.B.A. yang bekerja di PT Uniliver, melanjutkan karier ayahnya yang juga pernah bekerja di perusahaan Amerika Serikat itu selama 12 tahun sejak tahun 1978.

Pendidikan yang ditempuhnya untuk pertama kali adalah sekolah rakyat di Solo dan ditamatkan di sekolah rakyat Muhamadiyah Ngupasan, Yogyakarta, pada tahun 1948. kemudian, beliau melanjutkan pendidikan ke SMP I Bukitinggi dan tamat pada tahun 1952. Selanjutnya, beliau menempuh pendidikan SMA di Bogor yang ditamatkannya di SMA Negeri Pekalongan pada tahun 1959. Beliau juga dikirim untuk belajar dalam rangka pertukaran pelajar di White Fish Bay High School, Milwakee, Wisconsin, Amerika Serikat tahun 1957. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Hewan dan Perternakan, Universitas Indonesia, Bogor tahun 1957-1963 dan memperoleh gelar Dokter Hewan. Beliau juga menempuh pendidikan non-gelar sperti di School of Letters Internasional Writing Program, University of Low pada tahun 1971-1972 dan 1991-1992. Tahun 1993 Taufiq belajar di Mesir pada Faculty of Language and Literature America University in Cairo.

Taufiq selagi masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa telah terlibat dalam organisasi pelajar dan kemahasiswaan, yakni Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keterlibatannya dalam organisasi anti komunis itu menjadikan Taufiq menghadapi masalah pada masa akhir Orde Lama. Kariernya untuk menjadi dosen dan peneliti di almamaternya putus. Dia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan perternakan, Universitas Indonesia tahun 1960-1961. Kemudian, pada tahun 1961-1963 dia menjadi Ketua II Dewan Mahasiswa, Universitas Indonesia. (Sugono, 2003: 243).

Karirnya sebagai penyair berawal ketika dia menulis puisi-puisi demonstrasi yang terkumpul dalam Tirani dan Benteng pada tahun 1966. Dia dikenal sebagai penyair partisan dalam aksi demokrasi mahasiswa tahun 1966 itu dalam kapasitasnya sebagai wartawan harian Kami. (Sugono, 2003: 244).

Kumpulan sajaknya yang lain adalah Manifestasi (bersama Goenawan Muhamad dan M. Saribin Afn pada tahun 1963), Buku Tamu Musium Perjuangan (1969), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Sajak Ladang Jagung (1974), Kenalkan Saya Hewan (1973), Sajak Anak-anak (1976), cetak ulang puisi Tirani dan Benteng (1993), Puisi-puisi Langit (1990), Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998), dan lain sebagainya.

Karya Taufiq yang lainnya adalah kumpulan tulisan artikel dan esai sastra yang dikerjakan bersama dengan DS Moeljanto yang berjudul Prahara Budaya (Mizan, 1995; Sugono, 2003: 244). Beliau juga menjadi editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan untuk buku kumpulan puisi dan reproduksi lukisan dalam dua buah bahasa yang berjdudul Ketika Kata, Katika Warna yang diterbitkan Yayasan Ananda pada tahun 1995. Pada tahun yang sama, Taufiq bersama L. K. Ara dan Hasyim K. S. menjadi editor antalogi sastra Aceh yang berjudul Seulawah – Antalogi Sastra Aceh Sekilas Pintas, yang diterbitkan oleh Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh. Bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moch. Wan Anwar, Taufiq menjadi editor buku Dari Fansuri ke handayani, sebuah antalogi karya sastra Indonesia yang melintasi beberapa abad.

Taufiq beberapa kali memenuhi undangan Festival Sastra dari 24 kota Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak tahun 1970. Kegiatan tersebut menjadikan puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina. Undangan baca puisi di dalam negeri diterima juga dari beberapa kota di Indonesia, seperti Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Nusa Tenggara Barat, Makasar, Menado, dan kota-kota di Jawa. (Sugono, 2003: 244).

Kegiatan yang pernah diikuti oleh Taufiq adalah Konferensi PAN Asia di Taipei, Taiwan (1970), Kongres PEN Internasional di Seoul, Korea Selatan (1970), Internasional Writing Program di Universitas Lowa, Lowa City, Amerika Serikat (1971-1972), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1971 dan 1972), Kongres Penyair Sedunia di Taipei, Taiwan (1973), dan Festival Seni Adelaide, Australia (1974).

Taufiq menerjemahkan buku The Reconstructsion of Religius Thought in Islam karya Iqbal yang diterbitkan oleh Tirtamas tahun 1964, Taufiq menerjemahkan buku tersebut bersama dengan Ali Audan dan Goenawan Muhammad.

Taufiq mendapat berbagai penghargaan atas kerja keras dan sumbangsinya bagi dunia sastra, antara lain: “Anugrah Sastra” dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), “Cultural Award” dari Pemerintah Australia (1977), “South East Asia Write Award” dari Kerajaan Thailand (1994), dan “Penulisan Karya Sastra” dari Pusat Pembinaan Bahasa, Depdikbud RI (1994). Taufiq juga pernah menjadi penulis tamu dua kali di Universitas Lowa, Amerika Serikat pada tahun 1971-1972 dan 1991-1992, dan sekali di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Posisi Taufiq dalam perkembangan sastra Indonesia begitu penting. Dia menjadi tokoh utama Angkatan ’66 yang dipopulerkan H.B. Jassin dengan puisi-puisi dalam Tirani dan Benteng. H.B. Jassin (1967: 140) menyatakan bahwa Taufiq setara dengan Rendra. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pada Taufiq bersatu fantasi dan pemikiran, ide dan fakta dalam bentuk bahasa dan gaya yang estetis. (Sugono, 2003: 245).

Taufiq juga adalah salah seorang anggota Badan Pertimbangan Bahasa. Pikiran-pikirannya banyak dimanfaatkan untuk keperluan pembinaan sastra. Dia juga menjadi konsultan Balai Pustaka dan memimpin majalah Horison.

DAFTAR PUSTAKA

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Ensiklopedia Sastra Modern. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sofyan, Oyon. 2001. H.B. Jassin Harga Diri Sastra Indonesia. Magelang: Indonesiatera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: