My Best One

4 Nov

Dah lama nih gak posting lagi, alasan aku kalau tak posting itu hanya dua, pertama aku sibuk, kedua aku malas menulis. Sekarang lagi ingin menulis, kenapa? Aku menulis karena ada hal yang mengesankan hari ini.

Hal yang mengesankan itu, begini…. Aku diminta mengantar seorang murid untuk mengikuti lomba antar sekolah, tepatnya lomba bercerita dalam bahasa Inggris dan pidato dua bahasa (Indonesia/Arab). Sebelum lomba, murid yang akan diikut sertakan dalam lomba itu hanya diberi waktu selama lima hari untuk berlatih dan menghafal teks bahasa Indonesia, dan sehari untuk menghafal teks bahasa Arab. Sehari sebelum lomba, murid itu selalu mengatakan “tidak bisa.” Aku sedih setiap kali dia bilang “gak bias” karena aku jarang bahkan hamper tidak pernah mendengar kata “gak bias” dari mulutnya, waktu dia berkata “gak bias” kepada guru Bahasa Arabnya aku lebih sedih lagi, tapi juga berusaha menyemangati dia agar mau ikut lomba tapi dia tetap bilang “gak bias.”

Setelah bel pulang berbunyi, siswa-siswa di tempat aku mengajar bisanya langsung shalat duhur di masjid sekolah, tapi karena saat itu hari jum’at jadi mereka langsung ke masjid untuk shalat jum’at. Sebelum pulang aku memanggil siswa yang akan ikut lomba itu, padahal dia sudah ke masjid dan sudah bersiap akan shalat jum’at. Siswa itu mengampiri aku sambil telanjang kaki, lalu aku mengatakan seperti ini padanya “De, benar gak hafal? Bener gak bisa ikut lomba? Ibu sedih kalau Dede bilang gak bias.” Setelah aku mengatakan itu, siswa itu mengatakan “iya, bu bias” dia mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu setelah itu aku pulang.
Di hari lomba, aku yang mengantarkan anak itu ke tampat perlombaan. Saat diperjalanan kami ngobrol beberapa kata.

Dede : Bu, sedikit gak apa-apa kan?
Aku : Iya, De.
Dede : Saya ngafalnya semaleman ni Bu, buat Ibu.
Aku : Ya…..ampun, makasih De.

Tahu gak sih? Waktu itu aku senang sekali, demi aku dia menghafal semalaman. Baru ada seorang murid yang melakukan itu buat aku, itu rasanya seperti mendapatkan hadiah dari surga. Aku benar-benar senang saat itu. Itulah salah satu hal yang membuat aku tetap semangat untuk menjadi guru sampai sekarang.

Waktu aku menulis inipun aku masih merasa senang dan senyum-senyum sendiri, perasaan itu lebih menyenangkan dibandingkan dengan kata “aku cinta kamu” yang diucapkan pacarku sendiri.

Walaupun siswa aku itu tidak memenangkan perlombaan itu, tapi bagiku dia adalah seorang pemenang karena dia mau berjuang, karena dia sudah berusaha dalam keterbatasan waktu yang dimilikinya, bagiku dia adalah murid nomor satuku, murid terbaiku. My best one…… (^_^)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: